Perbedaan Mahar dan Mas Kawin dalam Berbagai Aspek

Banyak calon pengantin bertanya soal perbedaan mahar dan mas kawin, sebab kedua istilah sering dianggap sama. Padahal, asal kata hingga dasar hukumnya juga berbeda, walau terdapat beberapa kesamaan karena sama-sama diberikan oleh mempelai pria kepada mempelai wanitanya.
Kesalahpahaman ini cukup wajar terjadi karena dalam kehidupan sehari-hari, mahar dan mas kawin memang kerap dipakai bergantian untuk menyebut hal yang sama. Namun, jika ditelusuri lebih lanjut, ada aspek yang membuat keduanya tidak sepenuhnya identik, mulai dari asal bahasa hingga fungsi sosialnya.
Artikel ini akan menjelaskan mulai dari pengertian keduanya, beda mahar dan mas kawin dari berbagai aspek, serta persamaan yang jarang disadari banyak orang. Dengan memahami hal ini, diharapkan Anda dapat lebih siap untuk mendiskusikan mahar bersama pasangan dan keluarga. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini!
Pengertian Mahar dan Mas Kawin
Mahar adalah pemberian dari calon suami kepada calon istri dalam pernikahan menurut ajaran Islam. Bentuknya bisa berupa uang, perhiasan, emas, properti, atau sesuatu yang disepakati bersama, dan setelah diberikan, mahar menjadi hak milik istri serta menjadi salah satu bentuk keseriusan calon suami dalam pernikahan.
Besaran dan bentuk mahar juga dapat dibicarakan oleh calon suami dan calon istri sebelum akad. Jumlahnya tidak harus besar, selama disepakati bersama dan dapat diberikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sementara itu, mas kawin merupakan istilah umum yang digunakan untuk menyebut mahar dalam bahasa Indonesia. Bentuknya dapat berbeda sesuai kesepakatan pasangan dan tradisi yang berlaku, seperti uang, emas, atau perlengkapan ibadah.
Lalu, mahar dan mas kawin apa bedanya? Secara umum, keduanya merujuk pada pemberian yang sama dalam pernikahan. Perbedaannya lebih pada istilah dan konteks penggunaannya, karena kata mahar lebih sering digunakan dalam konteks agama Islam, sedangkan mas kawin lebih umum digunakan dalam pembicaraan sehari-hari.
Perbedaan Mahar dan Mas Kawin dari Berbagai Aspek
Mahar dan mas kawin sering dianggap memiliki arti yang sama, tetapi penggunaannya dapat dilihat dari beberapa aspek. Perbedaan mas kawin dan mahar tersebut berkaitan dengan istilah, konteks agama, serta kebiasaan budaya dalam pernikahan.
1. Asal Kata dan Istilah
Mahar berasal dari bahasa Arab, yaitu al-mahr, yang berarti pemberian dalam pernikahan kepada calon istri. Istilah ini lebihbanyak digunakan dalam pembahasan hukum dan ajaran Islam.
Sementara itu, mas kawin merupakan istilah umum dan seringkali digunakan dalam percakapan sehari-hari. Oleh karena itu, perbedaan keduanya secara singkat terletak pada penggunaan istilahnya.
2. Dasar Hukum
Mahar memiliki dasar hukum yang jelas dalam ajaran Islam dan merupakan hak calon istri. Ketentuan mengenai pemberian mahar juga disebutkan dalam Surat An-Nisa ayat 4 yang harus diberikan dengan penuh kerelaan dan ketulusan.
Sementara itu, mas kawin bukanlah bentuk pemberian yang memiliki aturan tersendiri dalam agama. Jika mas kawin yang dimaksud adalah mahar, maka ketentuannya tetap mengikuti aturan dalam ajaran Islam.
3. Sifat dan Kewajiban
Dalam Islam, mahar merupakan kewajiban calon suami kepada calon istri. Besaran dan bentuknya juga tergantung kesepakatan bersama oleh celon mempelai pria bersama wanitanya selama memenuhi ketentuan yang berlaku.
Sedangkan mas kawin tidak memiliki kewajiban agama yang berbeda dari mahar karena keduanya pada dasarnya merujuk pada pemberian yang sama. Perbedaannya lebih terletak pada istilah yang digunakan dalam konteks agama, bahasa, atau budaya.
4. Fungsi dan Makna
Selain menjadi hak istri, mahar juga merupakan salat satu bentuk penghormatan dan kesungguhan calon suami dalam pernikahan. Pemberian ini juga memiliki nilai simbolis sebagai bentuk tanggung jawab dalam membangun kehidupan rumah tangga.
Dalam konteks budaya, mas kawin juga dapat memiliki makna tambahan sesuai tradisi daerah masing-masing. Oleh karena itu, bentuk pemberiannya terkadang dibuat mengikuti kebiasaan atau simbol yang dianggap penting oleh keluarga.
5. Penerima dan Kepemilikan
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa mahar merupakan hak milik istri setelah diberikan kepadanya. Suami maupun keluarga istri tidak berhak mengambil atau menggunakan mahar tersebut tanpa persetujuan dari pemiliknya.
Hal yang sama juga berlaku jika istilah mas kawin digunakan untuk menyebut mahar. Artinya, jika ingin memberikannya kepada orang lain, keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan istri.
6. Bentuk Pemberian
Mahar bisa diberikan dalam bentuk barang berharga, perhiasan, emas, uang, atau bentuk lain yang disepakati. Pilihannya dapat disesuaikan dengan kemampuan calon suami dan kesepakatan bersama.
Tidak ada keharusan bahwa mahar harus berupa uang tunai maupun barang tertentu. Oleh karena itu, pasangan tersebut dapat memilih bentuk yang sederhana dan memiliki nilai personal maupun menyesuaikan kemampuannya.
7. Waktu Pemberian
Mahar biasanya disepakati sebelum akad dan diserahkan ketika akad nikah berlangsung atau bahkan dapat ditangguhkan berdasarkan kesepakatan calon suami dan calon istri. Kesepakatan ini sebaiknya dibuat dengan jelas agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
Karena mas kawin merupakan istilah lain dari mahar, waktu pemberiannya juga memngikuti kesepakatan tersebut. Dalam tradisi tertentu, bentuk simbolisnya dapat ditampilkan saat prosesi atau sebelum akad berlangsung.
8. Cara Penyerahan
Mahar umumnya disebutkan dalam prosesi akad nikah kepada mempelai wanita dengan kesepakatan yang sudah ada. Penyerahannya dapat dilakukan secara langsung maupun melalui cara yang telah disepakati sebelumnya.
Jika menggunakan istilah mas kawin dalam prosesi adat, pemberiannya dapat dikemas bersama seserahan atau perlengkapanlainnya. Namun pengemasan acara atau seremoni tersebut tidak mengubah kepemilikan mahar yang tetap berada pada istri.
9. Pengaruh Budaya dan Daerah
Ketentuan dasar mengenai mehar dalam pernikahan Islam tetap mengacu pada syariat, meskipun bentuk dan nominalnya dapat berbeda di setiap daerah. Hal ini membuat cara pemberian mahar bisa terlihat berbeda meski tujuan dasarnya tetap sama.
Sementara itu, penggunaan istilah mas kawin sering kali lebih dipengaruhi oleh kebiasaan bahasa dan budaya setempat. Maka dari itu, bentuk atau prosesi yang menyertainya dapat mengikuti adat yang berlaku di masing-masing daerah.
Saatnya Persiapkan Mahar dan Mas Kawin Terbaik untuk Pasangan
Setelah memahami perbedaan mahar dan mas kawin, sudah sepatutnya Anda mempersiapkan pemberian terbaik untuk calon istri tercinta. Salah satu pilihan paling banyak adalah emas, baik dalam bentuk logam mulia maupun perhiasan karena nilainya yang cenderung stabil dan bisa menjadi investasi jangka panjang.
Agar mahar atau mas kawin yang diberikan benar-benar bernilai, pastikan keasliannya terjamin sebelum diserahkan pada hari bahagia. Yuk cek keaslian emas pilihan Anda bersama layanan Raja Emas agr momen sakral Anda semakin berkesan.
Jika suatu hari Anda ingin menjual emas atau perhiasan tersebut namun sudah tidak ada surat yang menyertai, Raja Emas juga menyediakan layanan jual emas tanpa surat. Cek layanan kami selengkapnya di laman rajaemas.id untuk informasi lebih lanjut →
Pertanyaan Umum
Siap Jual atau Cek Emas Anda?
Temukan outlet Raja Emas terdekat dan datang langsung, buka setiap hari.